No Heart and I’m Losing a Lot of Money

December 30, 2023
got no heart and losing money

2021 sampai 2022 merupakan tahun di mana personal growth saya mencapai titik terbaiknya. Kesehatan, keuangan, jejaring, apapun yang banyak orang inginkan, semuanya seolah berpihak di sisi saya.

Tahun di mana saya mendapat banyak peluang untuk mengerjakan ini dan itu sesuai dengan hal yang saya minati. Di tahun itu juga akhirnya saya memenuhi lumbung keuangan yang sejak 2019 saya kumpulkan tapi tidak pernah terisi penuh.

Tapi yang namanya hidup, pasti akrab dengan ketidakseimbangan, kan? Kadang naik, kadang harus turun. Tapi sayang, di 2023 rasanya buat saya turunnya sedikit kebanyakan. Kalau saya sangat suka dengan kalimat Win Heart, Not Money, sepertinya tahun ini saya kalah telak di keduanya, No Heart and I’m Losing a Lot of Money.

Sebelum Dihakimi, Ijinkan Saya Menjelaskan Tentang Win Heart Not Money

Kalau bicara tentang Love Language, entah kamu percaya atau tidak, pasti akan ada satu hal yang paling bisa bikin kita nyaman di antara kelima Bahasa Cinta yang ada. Buat saya, yang paling kuat adalah words of affirmation. Saya merasa nyaman ketika keberadaan saya berpengaruh untuk kebaikan hidup orang lain. Saya senang menjadi orang yang dibutuhkan.

Kemarin Rabu (27/12), tim Akarmula mengadakan sesi temu mingguan. Ini sesi rutin yang kami adakan untuk menyampaikan tentang apa saja yang akan diselesaikan dalam satu pekan. Yang dibagikan bukan hanya urusan profesional, tapi kalau ada kendala personal, kami semua siap membantu. Minimal membantu untuk jadi pendengar terbaik. Selain proyeksi, ada satu hal yang paling saya tunggu dari temu mingguan, yaitu sesi berbagi wawasan yang sebisa mungkin bermanfaat untuk semua anggota tim yang hadir.

Roda undian dijalankan. Bagan berbentuk lingkaran dengan ruas warna-warni berisi nama setiap anggota tim mulai berputar di layar monitor yang ada di depan kami. Dari cepat, moderat, lalu melambat, dan akhirnya berhenti di ruas berwarna biru bertuliskan nama Lintang di dalamnya. Untung saya sudah mempersiapkan satu buah presentasi yang—semoga—bermanfaat buat teman-teman tim Akarmula. Kalau kamu juga tertarik untuk baca presentasi tersebut, kamu bisa ambil di sini.

Financial Foundation, itu materi yang saya bawakan di dalam presentasi tersebut. Singkatnya, presentasi itu membahas langkah-langkah dasar yang dulu saya ambil untuk sedikit memperbaiki hidup saya dan membantu mengangkat sudut pencapaian hidup yang saya miliki. Ada lima poin di dalamnya, saat menulis tulisan ini, saya jadi teringat pada poin ke-2 dari pondasi keuangan yang saya yakini, yaitu protection.

Dalam menata pondasi keuangan, kita akan dihadapkan dengan kondisi untuk melindungi hal-hal yang menurut kita penting. Setiap orang punya hal pentingnya masing-masing. Bisa jadi pasangan, pekerjaan, karir, partner kerja, orang tua, rumah, kendaraan, hobi, dan bisa juga hewan peliharaan. Tahu bagaimana cara menjaga sesuatu yang penting di dalam hidup kita akan membantu pencapaian kondisi keuangan yang lebih baik.

Masalahnya, ketika kita tidak fokus dan kehilangan kendali, kita cenderung menganggap hal di hidup kita jadi penting semuanya. Kita jadi buta akan skala prioritas. Semua ingin kita jaga. Padahal untuk menjaga, ada biaya yang harus kita bayarkan, entah itu waktu, tenaga, pikiran, atau bahkan uang—dalam arti sebenarnya.

Singkat cerita, saya merasa di 2023 ini saya melindungi banyak hal secara bersamaan dan secara mati-matian. Ini menghabiskan banyak sumber daya.

Tapi apakah betul itu yang membuat saya nggak begitu puas dengan pencapaian tahun 2023? Beneran gara-gara kelelahan? Bagaimana ternyata kalau itu memang harga yang harus saya bayar ketika saya ingin mengangkat sudut pencapaian hidup ke derajat yang lebih tinggi?

Lagi-lagi setiap neuron di otak saya saling berteriak satu sama lain untuk memastikan mereka semua masih terjaga. Mencoba mencari mana yang sebetulnya menjadi alasan utama kenapa saya merasa 2023 tidak sebaik pertumbuhan di tahun sebelumnya. Sampai akhirnya saya merasa disentil, dipelintir, ditonjok, dibanting oleh diri saya sendiri.

Selama ini saya sendiri tahu jawabannya. Bahkan saya sudah tuliskan itu di awal tadi. Jawaban atas rasa ketidakpuasan yang saya dapat di 2023 adalah: I pour my everything into winning everyone's heart, while neglecting my own. Saya akui, rasa tidak puas ini datang karena saya merasa kalah hati, dan merasa kehabisan daya dari dalam diri saya.

Padahal kita semua tahu prinsipnya, sebelum membantu orang lain ada baiknya kita membantu diri kita sendiri terlebih dahulu, kan?

Evaluasi di 2023, untuk 2024 yang Lebih Yahud

Kurang ajar kalau saya nggak bersyukur sama sekali tentang pencapaian saya di 2023. Untuk urusan pencapaian, saya selalu membaginya ke dalam tiga hal: wealth, health, and heart.

Health, di tahun ini merupakan pencapaian kesehatan terbaik sepanjang hidup saya.

Wealth, bersyukur, tahun ini portfolio saham saya mencapai 8,21%, lebih tinggi 2,05% dari IHSG secara year to date. Sangat jauh lebih baik, dari tahun sebelumnya yang saya -1,7%. Meskipun uang tabungan benar-benar lagi kering karena banyak pengeluaran dadakan di tahun ini. Akan lebih bijak dan berhati-hati di tahun depan.

Heart, di sini saya kalah telak. Saya kehilangan apa yang seharusnya saya jaga—kewarasan dan kepuasan diri saya sendiri.

Segitiga Hidupku

So, kalau dirasa-rasa memang segitiganya lagi nggak balance aja. Menang banyak di health, menang tipis di wealth, tapi kalah banyak di heart.

Sebelumnya saya sudah bagikan resolusi saya untuk tahun 2024. Resolusi tersebut masih berkaitan erat dengan perasaan yang saya dapat di 2023. Tentang bagaimana saya harus jujur atas apa yang saya lakukan, terlebih lagi yang saya rasakan.

Tahun depan saya akan lebih thoughtful dalam melakukan segala sesuatu. Mengukur semua dengan cepat, tanpa mengorbankan sesuatu yang benar-benar penting. Mengukur kembali skala prioritas dari masing-masing aktivitas yang akan saya jalani.

Semoga itu bisa membantu saya memenangkan kembali 3 aspek yang saya yakini penting dalam hidup saya. I will win my heart again and bring back a lot of money—literally!

Article written by lintangnoviantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *