A sharp sense of observation is like a compass in the fog, essential for decision-makers. But truth is, it’s becoming rare these days.

Last night, he started talking. About the anxiety that had been creeping in, how it shook him from the inside like his whole body was trying to reject everything he ate. His tone wavered, typical of someone struggling to express what’s on their mind. You could tell his head was full, but nothing was coming out right.

'Taking care of people is exhausting, you know?'

He wasn’t looking for advice. He just wanted someone to sit with his pain. The truth? He was the one messing it up. His focus was all over the place. His thinking short and impulsive.

It was… concerning, to say the least.

The Real Reason Your Focus is Dying

When was the last time you just sat still and did nothing?

Stillness gives us space to explore. We get to look inward and outward, all at once.

But lately? Just a few seconds of quiet and boom, we’re reaching for our phones. Standing in line at the ATM? Phone. Waiting at a red light? Phone. On the toilet? Definitely phone.

Gen Z calls this FOMO. Fear of Missing Out. And yeah, I know I’m stuck in it too. I know it’s draining me, but somehow, I still can’t stop.

This week’s screen time? 6 hours and 23 minutes per day. Triple the amount from the last time I felt like I had control. And guess where most of it went? Yep… social media. The place that offers noise in the middle of silence, anywhere, anytime.

But lately I’ve been wondering… is this really the kind of noise I need? What exactly am I chasing?

Coming Home to Yourself

Let’s be honest. On a scale of 1 to 10, how well do you know yourself?

What are your strengths? What makes you different? Why are you here? What’s your core purpose?

If your answers feel shallow, maybe it’s time to pause and dive a little deeper.

This is what he always does when his focus slips. It’s not magic, but for him, it works. A way to awaken his thinking muscles, and emotional ones too.

Everything I do is to enrich myself. I don’t hesitate to dance on others’ suffering while showing off the medals I’ve won.

My final score for him: minus eleven.

He took a deep breath. Held it. Released it slowly. Again and again. His face softened. Like he was trying to quiet his noisy ego and actually listen to himself.

Is it wrong to want to be acknowledged?

WRONG! No, I mean, wanting recognition isn’t wrong. But where he went wrong was searching for it from others. What can we really expect from people? Why not start with ourselves?

Think about your childhood, what made you happy? What made you cry?

Think about your teenage years, what made you feel alive? What made you feel like nothing mattered?

And now, what are you fighting for?

Tuning into your emotions helps you see yourself in a wider lens. And only with that kind of space can you finally breathe again, and reconnect with what makes your life meaningful.

Curiosity: The Key to Expanding Yourself

It's ok to stay in the comfort zone. And if you do leave, make sure you come back with something worth adding to it.

Ever wonder what kind of curiosity our ancestors had enough to lead them to fire?

They had to get burned. They probably threw all sorts of stuff into the flames just to see what happened. Curiosity made them do it.

And truth is, everything around us today is still full of things to touch, notice, and wonder about.

Never assume you already know enough. Don’t get too caught up in watching people live their lives across the world through your phone. There’s still so much beauty to notice nearby.

Your job is to choose, filter, and carry home only the things that help expand the comfort zone you’re building.

Keep exploring. Stay curious. Pay attention to what pulls you in.

Hampir tiba saatnya orang mulai untuk kembali nulis jurnal, pergi ke gym, dan bikin resolusi tahunan—yang nggak pernah diselesaikan itu. Oh, kamu juga kayak gitu? Mungkin kamu udah harus coba untuk bikin satu resolusi aja setiap tahunnya, seperti yang biasanya saya lakukan.

Recap 2024

Tahun lalu, di resolusi 2024 saya bilang kalau ingin berbagi dengan lebih jujur. Di akhir kalimat dari resolusi saya bunyinya:

Apa yang dari hati akan sampai ke hati.

Dan benar saja, tahun ini saya tidak banyak membuat konten yang ditujukan untuk menarik trafik. Saya berbagi konten tentang apa yang saya suka. Tentang apa yang membuat saya nyaman membagikannya. Kalau kamu sudah berteman dengan saya secara daring di Instagram dari 3 tahun belakangan ini, mungkin kamu menyadari perbedaan pola konten yang saya unggah di akun-akun media sosial saya.

Selain menjadi jujur, ternyata di 2024 juga terasa menjadi tahun dengan versi diri paling egois yang pernah saya lalui sepanjang hidup. Mulai dari hanya mau mengerjakan hal-hal yang saya suka, hingga memilih untuk hanya dekat dengan orang-orang yang memberikan makna hidup bagi saya—tentunya dengan meng-cut mereka yang membawa vibe negatif. Kalau kamu yang membaca tulisan ini merasa saya menjauh—maaf ya—artinya memang begitu adanya.

Tahun ini saya memilih untuk memulai hobi baru, bermain alat musik. Saya sempat membeli gitar Yamaha APX-600 sebagai perwujudan niat saya untuk masuk dan belajar hal yang sempat saya benci. Iya, saya sempat benci musik. Kapan-kapan akan saya ceritakan kenapa saya benci dan bagaimana tiba-tiba saya bisa jatuh cinta. Tolong tagih saya suatu saat nanti.

Pekerjaan? Sangat menantang! Dilibatkan dalam 3 brand yang semuanya memberikan keleluasaan untuk memainkan peran marketer secara utuh, kata apa lagi yang bisa saya sampaikan selain menantang? Tahun depan saya akan mencoba untuk eskalasi agar 3 brand ini menjadi awal dari visi tim Akarmula untuk membangun 10 brand yang selamanya saling mendukung untuk menghadirkan lebih banyak hal bermanfaat bagi semua orang.

Kalau boleh dinilai, buat saya tahun ini 8/10. Saya cukup puas, saya cukup bangga.

Kenapa cuma 8? Jawabannya ada di resolusi 2025.

Resolusi 2025: Menikmati Apa yang Diminati

Seperti tradisi sebelum-sebelumnya. Saya hanya akan menulis satu resolusi untuk tahun depan, yaitu:

Being here and now.

Di tahun 2025, saya akan berusaha untuk hadir lebih utuh. Menikmati apa yang dimiliki. Menjalani dengan suka cita apa yang saya minati.

Satu alasan kenapa ini menjadi resolusi yang menurut saya patut untuk dicapai di tahun depan adalah karena saya merasa ngeri dengan berlalunya waktu begitu saja setelah usia 30 tahun. Ditambah dengan teknologi yang bikin segalanya jadi cepat, saya jadi dua kali lebih khawatir tidak menikmati apa yang saya minati.

Nggak butuh waktu lama untuk saya tertarik sama biji kopi dari Space Roastery yang satu ini. Pas lihat rilisnya di Instagram mereka, saya langsung nyeletuk "lha, kok lucu?!"

Biji kopi ini dikemas di dalam botol khas seperti minuman sake. Meskipun begitu, serial biji kopi eksperimental ini sourcing-nya single origin 100% di Gununghalu, Jawa Barat. Nama "Koji"-nya sendiri berasal dari jamur Koji (Aspergillus oryzae) yang kalau di Jepang biasa dipakai untuk fermentasi. Yes, itu dia yang bikin Halu Koji 1696 ini punya rasa yang cukup funky.

Terus 1696-nya apa? Ini tuh tahun saat pertama kali kopi diperkenalkan di area tempat biji kopi ini dipanen—Gununghalu.

Tang, kok kamu tau sejarahnya?

Lha wong ada di belakang kemasan. Baca makanya!

Anyway, untuk rasa sendiri Halu Koji 1696 ini lumayan bikin saya kaget pas duduk di lidah. Tapi setelah beberapa detik, mulai terbiasa dan oh ternyata segar kok.

Lama-lama terasa manis dan kalau ditaruh di pangkal lidah sambil dicari aromanya, muncul rasa malt khas seperti yang ada di bir. (Yes, daripada soju atau sake, di saya lebih terasa seperti bir pilsner).

Oh ya, di kata pengantar packagingnya ditulis: Drink with an open mind because this coffee is very experimental, try at your own risk. Jadi langsung aja kita seduh.

Karena kebayang rasanya bakal funky, saya langsung pilih untuk setduh pakai metode Japanese Iced Coffee.

Kurang lebih seperti ini detail setduh-nya:

Saat ini biji kopi Halu Koji 1696 sudah sold out. Tapi kalau kamu mau coba, boleh nih saya masih ada beberapa kali setduh. Tahu harus reach saya lewat mana, kan? Hehe

Nggak ada orang yang benar-benar tahu apakah yang ia sedang lakukan itu sudah tepat atau belum. Makanya ada yang namanya metrik ukuran. Kalau tumbuh artinya tepat, kalau diam di tempat artinya perlu ada yang ditata ulang. Berarti juga kudu dicoba dulu baru tau tepat atau belum.

Cara ini yang saya terapkan di 4 aspek hidup: health, wealth, head, and heart. Pertumbuhan keuangan, pertumbuhan kesehatan, pertumbuhan pemahaman tentang hal-hal di sekitar saya, sampai ke gimana cara saya memahami orang yang saya kasihi.

Apa maksudnya? Mari saya jelaskan.

Pertumbuhan Keuangan

Ada investment advisor yang bilang mending kamu invest di saham X daripada Y. Tapi advisor lainnya bilang mending di saham Z aja. Faktanya, mereka tidak benar-benar tahu kalau X lebih baik daripada Y, atau Z. Secara pengalaman dan keilmuan, mereka punya kemampuan untuk menghitung tumbuhnya X, Y dan Z. Tapi apakah akan selalu tumbuh seperti yang diharapkan?

Belum tentu. Untuk mencapai level finansial tertentu perlu diukur, dievaluasi, dan disusun ulang komposisi investasinya secara berkala.

Pertumbuhan Kesehatan dan Masa Otot

Buat kamu yang mau mulai gym tapi bilang "ngga mau ah, nanti badannya besar kayak tukang pukul", trust me, membangun badan yang besar nggak semudah itu. 22 bulan saya latihan konsisten 6 hari seminggu di gym, minum 17 kaleng whey protein dan kreatin tapi badan saya baru sampai segini-segini aja.

Meskipun "segini-segini" aja, saya tetap merasakan ada pertumbuhan. Mulai dari bentuk yang membaik, sampai manfaat langsung seperti jadi jarang kelelahan. Semuanya nggak saya dapatkan dalam satu kali angkat beban.

Pertumbuhan Pemahaman Tentang Hal-hal di Sekitar Saya

Menurut daerah A, aktivitas X itu hal yang boleh dilakukan. Sedangkan daerah B melarang dan menganggap itu adalah hal yang tabu. Apakah orang-orang di tempat A lebih benar daripada B karena mengijinkan kita melakukan aktivitas X?

Pertumbuhan Rasa Kasih

Kadang saya marah karena saya tidak ingin orang yang saya kasihi berada di dalam kondisi sulit. Apakah yang saya lakukan benar? Jangan-jangan kondisi sulit ini yang dibutuhkan agar orang yang saya kasihi punya kesempatan untuk bertumbuh menjadi lebih baik.


See? Kita nggak pernah tahu apa yang kita lakukan sudah benar atau belum. Hal yang membuat kita merasa benar adalah jika apa yang kita lakukan membawa kebaikan atau pertumbuhan—growth. Untuk kita tahu apakah kita tumbuh, perlu diukur secara berkala.

Ini yang jadi dasar kesimpulan saya tentang growth recipe. Hal yang mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan karena kita sering merasa tidak yakin apakah kita sudah benar melakukannya—atau simply karena kita nggak sabaran aja.

Growth recipe menurut saya adalah: berani coba, konsisten, datang terus, ukur, coba lagi dengan lebih cerdas.

Kata saya sih mending bikin sama dulu aja, istilah marketing dan branding yang ada di kepala kita.

Kalau kata Marty Neumeier, brand = sebuah hasil akhir. Ini tuh tentang perasaan kita terhadap produk, jasa, atau sebuah organisasi—bahkan menurut saya bisa untuk orang juga. Kalau begitu yang namanya branding adalah upaya untuk mencapai hasil akhir itu.

Terus kalau marketing?

Kata Philip Kotler—doi ini bapak marketing modern—pemasaran tuh tentang menggali, menciptakan, dan menyampaikan hal yang dirasa penting oleh seseorang.

Berarti duluan mana? Ya gak dulu-duluan, wong jalannya bareng. Kalau kita bikin lebih ringkas lagi karena marketing tuh MENGGALI, MENCIPTAKAN, dan MENYAMPAIKAN, berarti upaya membangun brand—yang kita sebut branding—itu ada di dalam aktivitas marketing.

Kan marketing itu luas. Di dalamnya nggak cuma ada branding aja. Ada juga public relation, ada advertising, ada customer relationship management.

Jadi kalau ada yang masih berusaha triggering kamu lewat pertanyaan “DULUAN MARKETING APA BRANDING”, mungkin dia lagi cari engagement karena mau jualan kelas 🪭