Lima Lembar Uang Seratus Ribuan Efektif untuk Membongkar Karakter Murahan

January 9, 2024

AC ruangan kamar saya rusak.

Saya menghubungi tukang servis elektronik langganan.

AC dibawa untuk diperiksa.

Sehari setelah diperiksa, saya ditawari untuk tukar tambah AC lain saja.

“Tambah berapa?” Kata saya.

Tujuh Ratus Ribu Rupiah.

Murah. Pikir saya.

Tapi tunggu dulu.

“Sebelum tukar tambah, boleh diusahakan AC saya dibetulkan?" Saya suka sama modelnya.

Tiga hari berlalu.

“AC-nya rusak parah.” Katanya.

Sudah dia cari, katanya nggak ketemu rusaknya sebelah mana.

“Saya habis freon banyak ini untuk coba betulkan. Saya nyerah, terserah barangnya mau diapakan!”

Saya ingat, kemarin ditawari untuk tukar tambah AC. Saya tanyakan apakah penawarannya masih berlaku?

“Masih. Barangnya bagus,” katanya.

Saya percaya.. Tapi karena AC saya rusak parah, harga yang saya bayar jadi dua kali lipat.

“Yaudah nggak apa-apa. Tapi digaransi ya.” Minta saya.

Dipasang lah itu AC.

Transaksi selesai.

AC dari tukar tambah saya nyalakan.

Suaranya seperti helikopter.

Weng, weng, weng, weng, weng.

Rasanya sampai bisa bikin mual.

Saya hubungi kembali si tukang servis elektronik.

“Oh iya, tadi ada yang saya ganjal. Saya lupa bawa baut. Besok saya betulkan.” Kata dia seenaknya setelah saya komplain.

Kenapa nggak bilang dari awal sih. Apa jadinya kalau saya menerima begitu saja dan nggak komplain?

Ini masih belum bicara tentang ada fitur swing yang tidak bekerja.

Si anjing. Kayaknya dikerjain sih ini. Kata saya dalam hati.

Tanpa pakai lama, saya langsung hubungi dia lagi.

“Besok AC dicopot saja, kembalikan uang saya. Kalau ada biaya bongkar pasang, silahkan dihitung.”

Jeda dua hari, proses pembongkaran dilakukan.

Uang saya kembali, tapi hanya Sembilan Ratus Ribu Rupiah.

Sisanya ke mana?

Anggap saja untuk membayar karakter orang ini.

Ok. Saya nggak mau pakai jasa dia lagi.

Article written by lintangnoviantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *