Loh?! Bisa-bisanya Saya Jatuh Cinta Lagi

December 26, 2023
a fiction book, The Virgin Suicides by Jeffrey Eugenides

Kalau ingatan saya benar, terakhir kali saya membaca buku fiksi adalah 4 tahun yang lalu. 

Waktu itu saya putuskan untuk menitipkan semua koleksi buku cerita bergambar dan novel yang saya punya ke teman-teman yang bernafas dari satu buku fiksi ke buku fiksi lainnya.

Rak buku yang semula diisi nama-nama seperti Pramoedya Ananta Toer, Eka Kurniawan, Dee Lestari, Budi Darma, mendadak dipenuhi buku-buku yang membuat pembaca fiksi menyipitkan mata sambil merasa asing ketika membaca nama penulis di sampulnya.

Kenapa berhenti baca fiksi?

Alasan pertama, karena di tahun itu saya berencana keluar dari rumah orang tua saya.

Di rumah orang tua saya, budaya membaca dirasa aneh. Keberadaan buku dianggap bikin ruangan jadi berantakan. Menitipkan buku-buku di kamar saya—yang sekarang gudang—jelas bukan keputusan yang tepat. Daripada buku-buku itu dilipat jadi beberapa lembar uang pecahan dua puluh ribuan, mendingan saya titipkan ke orang-orang yang sayang, kan?

Alasan kedua, perlahan saya meninggalkan buku fiksi karena waktu itu saya ingin mulai lebih tajam memahami hal-hal yang logis. Khas masa transisi menjadi orang—sok—bener. Mencoba mulai belajar memperbaiki diri lewat buku yang sarat akan motivasi dan wawasan tentang pengembangan diri.

Apakah meninggalkan fiksi mengantarkan saya kepada apa yang saya cari?

Lumayan lah, ternyata jampi-jampi motivasi bekerja dengan baik di diri saya. Beberapa urusan hidup mulai membaik. 

Tapi sayang, jampi motivasi ternyata ada efek sampingnya. Saya kok merasa hidup malah jadi sekaku ini, ya? Semua informasi yang saya terima harus masuk logika. Imajinasi saya dipaksa sujud di kaki realita. 

Apakah ini yang akan saya rasakan sampai tua?

Rasa khawatir tersebut mendapatkan jawabannya di ujung tahun 2023. Entah ini musibah atau anugrah.

Di siang yang panas itu, udara sejuk tiba-tiba membisikkan banyak nama yang masih saya ingat betul. Nama-nama yang saya tahu tidak pernah menggurui tapi mampu mengajari kita memahami rasa dan mengasah empati.

Nggak butuh waktu lama untuk saya menyadari kalau sepertinya saya jatuh cinta—lagi.

Semoga rasa yang kali ini bukan beban. Baik untuk saya, maupun untuknya.

Saya siap membaca buku fiksi lagi.

Article written by lintangnoviantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *