“Bentar, masih agak teleng ini. Cari yang bikin seger dulu, ya?” Kata saya setiap kali diajak mikir keras tapi belum minum kopi.

Dulu waktu kecil, saya sering colongan nyeruput kopi milik ayah saya yang disajikan lengkap dengan kepulan uap panas khas kopi rumahan–yang murahan. Kadang, saya menirukan cara beliau menikmati kopi panas.

“Lepeknya taruh di mulut gelas, terus dibalik, angkat dikit biar kopinya rembes ke lepek, baru diseruput dari lepek,” suruhnya saat memergoki saya yang sedang berusaha melakukan apa yang beliau sering lakukan.

Tanpa disadari, kebiasaan minum kopi sudah saya bawa dari kecil. 

Terlanjur Nyemplung, Sekalian Basah!

“Industri kopi ternyata njelimet, tapi menantang.” Kata saya ke bang Venob saat pertama kali mengerjakan project website untuk brand miliknya. Bang Venob ini co-founder dari Cafémaker. Dulunya Cafémaker adalah klien dari brand growth agency yang saya bangun—Akarmula. Tapi karena banyak irisan-irisan dan peluang baru yang bisa dikerjakan bersama, malah membuat kami sekarang jadi rekan kerja.

Sebagai brand strategist, prinsip saya ketika masuk ke suatu industri adalah harus paham betul bagaimana cara berbicara di dalam industri tersebut. Ini jawaban kenapa kok saya antusias banget tentang perkopian, bahkan sampai niat beli perintilan perkopian untuk saya ulik sendiri. Karena benar-benar saya merasa industri ini menantang.

Seberapa menantang sih industri kopi?

Tergantung, kamu mau tau dari sisi bisnis, atau dari sisi barista dan konsumen?

Industri Kopi–Dilihat dari Sisi Bisnis

Faktanya setiap tahun konsumsi kopi dunia tuh sampai menyentuh angka 10 billion kilos, dan pastinya akan terus meningkat. Bahkan diprediksi tahun 2025 nanti revenue industri secara global bakal berpotensi menyentuh angka US$585 billion. Angka yang uwow, kan?

Kalau kata orang-orang industri kopi itu udah lelah, saya nggak percaya. Yang kelelahan itu mungkin coffee shopnya aja, bukan industri kopinya.

Kamu bisa bayangin coffee shop itu kayak hotel. Kalau sebuah hotel hanya mengira mereka jualan kamar, wah itu salah besar. Begitu juga dengan coffee shop, dia nggak cuma jualan kopi. Banyak hal seru yang masih bisa dilakukan daripada sekedar menjual kopi dalam cup.

Memang, ketika satu kategori sudah padat, kita perlu sedikit lebih keras untuk mencari celah. Tapi bukan berarti nggak ada peluang lagi, kan?

Kalau kamu termasuk pemilik/calon pemilik coffee shop yang pengin eksplorasi industri ini, ngobrol deh sama tim Akarmula. Mereka punya sesi namanya 60 Minutes About Your Brand, gratis kok. (Hiyaaa. Promo dikit.)

Industri Kopi–Dilihat dari Sisi Konsumen dan Barista

Kalau dari sisi konsumen dan barista, kamu tau sendiri pilihan menu kopi ada banyak, kan?

Di balik menu tersebut, masih ada berbagai pilihan cara menyeduh yang beragam. Masih ada juga berbagai pilihan biji kopi yang ternyata menghadirkan rasa berbeda-beda. Biji kopi ini punya beragam cara pemrosesan juga.

Belum lagi kalau ngomongin cara penyeduhan, beda cara beda juga ukuran gilingan bubuk kopi yang dibutuhkan. Ini juga masih belum ngomongin perbedaan suhu dan waktu seduh yang ternyata juga memengaruhi rasa yang akan kamu nikmati di setiap seruputan.

Waktu belajar lebih dalam tentang kopi dan mulai tau tentang itu semua, saya cuma bisa geleng-geleng dan mangguk-mangguk karena kagum. Penikmat kopi dan barista punya banyak peluang untuk eksplorasi lebih jauh! Eksplorasi rasa, eksplorasi pengalaman.

Oh ya, selama eksplorasi tentang kopi (sebagai konsumen), menurut saya barista selalu punya peran penting untuk mengantarkan sebuah perasaan dan pengalaman yang luar biasa. Kalau kamu seorang barista, ada baiknya untuk mengasah cara komunikasi dan lebih peka dalam hal hospitality.

Tentang Set-Duh!

Sebelum menyudahi tulisan kali ini, saya mau memperkenalkan satu halaman khusus yang akan saya gunakan untuk menulis tentang kopi. Bukan, ini bukan media saya untuk sok mengajari (jujur, saya takut diseduh sama pendekar kopi). Di halaman ini saya akan merangkum proses perjalanan saya memahami industri yang njelimet, tapi menantang.

Kenapa namanya Set-Duh?

Set-duh! tuh nama beken dari realm—rubrik–tentang kopi di website ini. Dibaca seperti: Bu(SET) a(DUH), yang mana seperti ekspresi lumrah orang yang belum ngopi tapi udah disuruh mikir.

Sampai ketemu di cangkir selanjutnya!

2021 sampai 2022 merupakan tahun di mana personal growth saya mencapai titik terbaiknya. Kesehatan, keuangan, jejaring, apapun yang banyak orang inginkan, semuanya seolah berpihak di sisi saya.

Tahun di mana saya mendapat banyak peluang untuk mengerjakan ini dan itu sesuai dengan hal yang saya minati. Di tahun itu juga akhirnya saya memenuhi lumbung keuangan yang sejak 2019 saya kumpulkan tapi tidak pernah terisi penuh.

Tapi yang namanya hidup, pasti akrab dengan ketidakseimbangan, kan? Kadang naik, kadang harus turun. Tapi sayang, di 2023 rasanya buat saya turunnya sedikit kebanyakan. Kalau saya sangat suka dengan kalimat Win Heart, Not Money, sepertinya tahun ini saya kalah telak di keduanya, No Heart and I’m Losing a Lot of Money.

Sebelum Dihakimi, Ijinkan Saya Menjelaskan Tentang Win Heart Not Money

Kalau bicara tentang Love Language, entah kamu percaya atau tidak, pasti akan ada satu hal yang paling bisa bikin kita nyaman di antara kelima Bahasa Cinta yang ada. Buat saya, yang paling kuat adalah words of affirmation. Saya merasa nyaman ketika keberadaan saya berpengaruh untuk kebaikan hidup orang lain. Saya senang menjadi orang yang dibutuhkan.

Kemarin Rabu (27/12), tim Akarmula mengadakan sesi temu mingguan. Ini sesi rutin yang kami adakan untuk menyampaikan tentang apa saja yang akan diselesaikan dalam satu pekan. Yang dibagikan bukan hanya urusan profesional, tapi kalau ada kendala personal, kami semua siap membantu. Minimal membantu untuk jadi pendengar terbaik. Selain proyeksi, ada satu hal yang paling saya tunggu dari temu mingguan, yaitu sesi berbagi wawasan yang sebisa mungkin bermanfaat untuk semua anggota tim yang hadir.

Roda undian dijalankan. Bagan berbentuk lingkaran dengan ruas warna-warni berisi nama setiap anggota tim mulai berputar di layar monitor yang ada di depan kami. Dari cepat, moderat, lalu melambat, dan akhirnya berhenti di ruas berwarna biru bertuliskan nama Lintang di dalamnya. Untung saya sudah mempersiapkan satu buah presentasi yang—semoga—bermanfaat buat teman-teman tim Akarmula. Kalau kamu juga tertarik untuk baca presentasi tersebut, kamu bisa ambil di sini.

Financial Foundation, itu materi yang saya bawakan di dalam presentasi tersebut. Singkatnya, presentasi itu membahas langkah-langkah dasar yang dulu saya ambil untuk sedikit memperbaiki hidup saya dan membantu mengangkat sudut pencapaian hidup yang saya miliki. Ada lima poin di dalamnya, saat menulis tulisan ini, saya jadi teringat pada poin ke-2 dari pondasi keuangan yang saya yakini, yaitu protection.

Dalam menata pondasi keuangan, kita akan dihadapkan dengan kondisi untuk melindungi hal-hal yang menurut kita penting. Setiap orang punya hal pentingnya masing-masing. Bisa jadi pasangan, pekerjaan, karir, partner kerja, orang tua, rumah, kendaraan, hobi, dan bisa juga hewan peliharaan. Tahu bagaimana cara menjaga sesuatu yang penting di dalam hidup kita akan membantu pencapaian kondisi keuangan yang lebih baik.

Masalahnya, ketika kita tidak fokus dan kehilangan kendali, kita cenderung menganggap hal di hidup kita jadi penting semuanya. Kita jadi buta akan skala prioritas. Semua ingin kita jaga. Padahal untuk menjaga, ada biaya yang harus kita bayarkan, entah itu waktu, tenaga, pikiran, atau bahkan uang—dalam arti sebenarnya.

Singkat cerita, saya merasa di 2023 ini saya melindungi banyak hal secara bersamaan dan secara mati-matian. Ini menghabiskan banyak sumber daya.

Tapi apakah betul itu yang membuat saya nggak begitu puas dengan pencapaian tahun 2023? Beneran gara-gara kelelahan? Bagaimana ternyata kalau itu memang harga yang harus saya bayar ketika saya ingin mengangkat sudut pencapaian hidup ke derajat yang lebih tinggi?

Lagi-lagi setiap neuron di otak saya saling berteriak satu sama lain untuk memastikan mereka semua masih terjaga. Mencoba mencari mana yang sebetulnya menjadi alasan utama kenapa saya merasa 2023 tidak sebaik pertumbuhan di tahun sebelumnya. Sampai akhirnya saya merasa disentil, dipelintir, ditonjok, dibanting oleh diri saya sendiri.

Selama ini saya sendiri tahu jawabannya. Bahkan saya sudah tuliskan itu di awal tadi. Jawaban atas rasa ketidakpuasan yang saya dapat di 2023 adalah: I pour my everything into winning everyone's heart, while neglecting my own. Saya akui, rasa tidak puas ini datang karena saya merasa kalah hati, dan merasa kehabisan daya dari dalam diri saya.

Padahal kita semua tahu prinsipnya, sebelum membantu orang lain ada baiknya kita membantu diri kita sendiri terlebih dahulu, kan?

Evaluasi di 2023, untuk 2024 yang Lebih Yahud

Kurang ajar kalau saya nggak bersyukur sama sekali tentang pencapaian saya di 2023. Untuk urusan pencapaian, saya selalu membaginya ke dalam tiga hal: wealth, health, and heart.

Health, di tahun ini merupakan pencapaian kesehatan terbaik sepanjang hidup saya.

Wealth, bersyukur, tahun ini portfolio saham saya mencapai 8,21%, lebih tinggi 2,05% dari IHSG secara year to date. Sangat jauh lebih baik, dari tahun sebelumnya yang saya -1,7%. Meskipun uang tabungan benar-benar lagi kering karena banyak pengeluaran dadakan di tahun ini. Akan lebih bijak dan berhati-hati di tahun depan.

Heart, di sini saya kalah telak. Saya kehilangan apa yang seharusnya saya jaga—kewarasan dan kepuasan diri saya sendiri.

Segitiga Hidupku

So, kalau dirasa-rasa memang segitiganya lagi nggak balance aja. Menang banyak di health, menang tipis di wealth, tapi kalah banyak di heart.

Sebelumnya saya sudah bagikan resolusi saya untuk tahun 2024. Resolusi tersebut masih berkaitan erat dengan perasaan yang saya dapat di 2023. Tentang bagaimana saya harus jujur atas apa yang saya lakukan, terlebih lagi yang saya rasakan.

Tahun depan saya akan lebih thoughtful dalam melakukan segala sesuatu. Mengukur semua dengan cepat, tanpa mengorbankan sesuatu yang benar-benar penting. Mengukur kembali skala prioritas dari masing-masing aktivitas yang akan saya jalani.

Semoga itu bisa membantu saya memenangkan kembali 3 aspek yang saya yakini penting dalam hidup saya. I will win my heart again and bring back a lot of money—literally!

Kalau ingatan saya benar, terakhir kali saya membaca buku fiksi adalah 4 tahun yang lalu. 

Waktu itu saya putuskan untuk menitipkan semua koleksi buku cerita bergambar dan novel yang saya punya ke teman-teman yang bernafas dari satu buku fiksi ke buku fiksi lainnya.

Rak buku yang semula diisi nama-nama seperti Pramoedya Ananta Toer, Eka Kurniawan, Dee Lestari, Budi Darma, mendadak dipenuhi buku-buku yang membuat pembaca fiksi menyipitkan mata sambil merasa asing ketika membaca nama penulis di sampulnya.

Kenapa berhenti baca fiksi?

Alasan pertama, karena di tahun itu saya berencana keluar dari rumah orang tua saya.

Di rumah orang tua saya, budaya membaca dirasa aneh. Keberadaan buku dianggap bikin ruangan jadi berantakan. Menitipkan buku-buku di kamar saya—yang sekarang gudang—jelas bukan keputusan yang tepat. Daripada buku-buku itu dilipat jadi beberapa lembar uang pecahan dua puluh ribuan, mendingan saya titipkan ke orang-orang yang sayang, kan?

Alasan kedua, perlahan saya meninggalkan buku fiksi karena waktu itu saya ingin mulai lebih tajam memahami hal-hal yang logis. Khas masa transisi menjadi orang—sok—bener. Mencoba mulai belajar memperbaiki diri lewat buku yang sarat akan motivasi dan wawasan tentang pengembangan diri.

Apakah meninggalkan fiksi mengantarkan saya kepada apa yang saya cari?

Lumayan lah, ternyata jampi-jampi motivasi bekerja dengan baik di diri saya. Beberapa urusan hidup mulai membaik. 

Tapi sayang, jampi motivasi ternyata ada efek sampingnya. Saya kok merasa hidup malah jadi sekaku ini, ya? Semua informasi yang saya terima harus masuk logika. Imajinasi saya dipaksa sujud di kaki realita. 

Apakah ini yang akan saya rasakan sampai tua?

Rasa khawatir tersebut mendapatkan jawabannya di ujung tahun 2023. Entah ini musibah atau anugrah.

Di siang yang panas itu, udara sejuk tiba-tiba membisikkan banyak nama yang masih saya ingat betul. Nama-nama yang saya tahu tidak pernah menggurui tapi mampu mengajari kita memahami rasa dan mengasah empati.

Nggak butuh waktu lama untuk saya menyadari kalau sepertinya saya jatuh cinta—lagi.

Semoga rasa yang kali ini bukan beban. Baik untuk saya, maupun untuknya.

Saya siap membaca buku fiksi lagi.

The Lucky Boomerang Bookshop, itu nama toko buku kecil yang terletak di sebuah gang dekat Malioboro, tepatnya di Sosrowijayan, Gang 1, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta. Saya benar-benar lucky bisa sampai ke toko buku ini.

"Daripada bingung mending parkir di Mall Malioboro, terus jalan kaki deh ke gang," kata teman saya yang tahu persis butuh keberuntungan besar agar sampai ke toko buku ini sambil membawa kendaraan. Jadi lah saya bersiap-siap untuk mencocokkan jam buka toko buku dengan jam tiba saya di area Malioboro.

Siang hari di tanggal itu kalau kamu buka Google Maps, sepanjang jalan Malioboro berwarna merah darah—mungkin hampir hitam. Ini adalah 2 hari sebelum hari Natal yang juga bertepatan dengan liburan anak sekolah. Jelas mencari tempat parkir bakal jadi PR besar kalau kondisinya seperti ini.

"Tai lah," kata saya dalam hati sambil menoleh ke kiri, melihat barisan mobil yang mau belok ke arah jalan Malioboro. Sambil terus melaju lurus, setiap neuron di otak saya berusaha keras memanggil informasi yang saya punya tentang daerah parkir sekitar sini. Belum selesai urusan tempat parkir ada bagian kecil dari otak saya teriak-teriak. Seolah ia berusaha mengingatkan untuk jangan parkir terlalu jauh. Ya gimana lagi, kalau ketemu tempat parkir pun saya masih perlu memastikan jarak tempuh dari tempat saya parkir untuk sampai ke toko buku yang saya cari. Sial, ribet banget.

Masih celingak-celinguk cari tempat parkir akhirnya ada secercah harapan saat saya melihat satu lahan parkir kosong di dalam area Stasiun Yogyakarta. Tanpa lama-lama saya segera parkir di sana.

Lega rasanya. PR pertama selesai. Sekarang saatnya mencari lokasi toko buku yang saya cari. Di sini lah saya merasa lucky. Kenapa? Karena ternyata jarak dari tempat saya parkir ke sana hanya 8 menit jalan kaki.

Gang Senggol yang saya maksud

Jalan masuknya kecil, pantas kalau teman saya bilang butuh keberuntungan besar untuk bawa kendaraan ke toko buku ini. Jangankan mobil, jalan kaki saja sesekali kita perlu menepi ke tembok biar nggak senggolan sama orang lain. Nggak butuh waktu lama, akhirnya sampai juga di depan toko buku yang saya cari.

Halaman depan The Lucky Boomerang Bookshop

"Beli apa, Tang, di sana?" Sebelum kalian tanya hal itu, saya mau jawab kalau saya tidak jadi beli apa-apa. Dari whislist buku yang saya bawa hampir semua sudah terjual. Hanya sisa satu buku dan itu pun nggak jadi saya ambil karena harganya sedikit di luar ekspektasi saya. Yah, meskipun nggak mendapatkan buku yang saya cari, anggap lah hari ini tetap lucky karena rasa penasaran saya tentang lokasi dan koleksi The Lucky Boomerang Bookshop sudah terjawab.

Buat kamu yang tertarik untuk ke toko buku ini, kamu bisa cek Instagram The Lucky Boomerang Bookshop untuk tahu koleksi terbaru apa yang mereka punya. Jadi sampai sana kamu bisa langsung tanya ke penjaga apakah buku yang kamu cari masih tersedia atau nggak 😉

Karena aku percaya, tahu ≠ bisa

Kalimat ini menutup resolusi 2023 yang saya buat tahun lalu. Lengkapnya kurang lebih seperti ini:

2023 jadi tahun saya berjanji untuk nggak cuma ngerti teori, tapi bisa praktekin langsung semua yang saya pelajari untuk kehidupan sehari-hari!

Apakah resolusi tersebut tercapai?

21/90 Rules bikin Badan Impian Bukan Sekedar Angan-angan

Sering kita dengar orang berbicara tentang konsistensi. Saya termasuk yang sering mengingatkan tentang konsisten. Masalahnya, konsisten itu gampang dibicarakan tapi susah untuk dilakukan.

Semoga kamu tahu tentang 21/90 rules. Kalau kamu belum tahu, ini adalah formula tentang meng-install gaya hidup.

Aturannya mudah dipahami dan dilakukan. Saat kita menjalankan sesuatu berulang selama 21 hari, kita akan membangun sebuah kebiasaan (habit).

Lakukan berulang selama 90 hari, maka kebiasaan tersebut akan menjadi gaya hidup (lifestyle). Uniknya, perlu cara yang sama untuk uninstall gaya hidup yang sudah ada.

Kamu harus tahu kalau data dari Forbes ada 48 responden menuliskan Improve Fitness sebagai resolusi mereka di tahun 2024.

Ingin memulai olahraga adalah resolusi paling banyak ditulis setiap tahun. Tapi siapa sangka, tanpa menjadikan itu sebagai target, di tahun 2023 saya sudah membereskannya dan menjadikan itu sebagai gaya hidup permanen.

Lewat menerapkan teori yang saya ketahui, saya jadi bisa dengan mudah membangun kebiasaan kecil yang berujung menjadi gaya hidup baru. Kamu harus mulai coba terapkan aturan 21/90 ini!

Oh ya, kalau kamu penasaran dengan proses saya mencapai kondisi kebugaran saya saat ini, ada satu catatan kecil saya tentang perjalanan saya membangun fitness habit. Saya juga ingin berbagi tentang bagaimana saya rutin menjaga gaya hidup sehat.

Applied Empathy bikin Hubungan Interpersonal Jadi Melegakan

Untuk yang satu ini sulit diukur, tapi saya benar-benar merasakan dampak positifnya.

Kalau kata orang-orang di sekitar saya, tahun ini saya lebih tenang. Nggak gampang sewot.

Ya di urusan kerjaan, di urusan pertemanan, atau yang lebih sederhana seperti urusan disalip orang asing di jalan.

Dulu, saya sering khawatir. Saya sering merasa ketika tidak ada saya di kantor, pekerjaan yang dikerjakan oleh tim, pasti outputnya biasa saja. Tahun ini saya berani melakukan delegasi.

Kalau di rumah saya merasa jadi yang paling lelah, yang paling butuh istirahat karena seharian sudah beraktivitas padat. Tahun ini saya meluangkan waktu sedikit lebih banyak—sebelum dan sesudah kerja—untuk menjaga setiap sudut rumah agar tetap indah.

Dulu saya sering merasa harus jadi yang lebih benar, lebih cepat, lebih tahu ini dan itu. Tahun ini saya happy untuk jadi orang yang ketinggalan informasi dan membiarkan orang-orang mendahului saya. Saya senang menjadi lambat. Lambat ternyata nikmat. Bisa memperhatikan dan menjaga orang-orang yang berarti bagi saya.

Belajar mengaplikasikan empati membuat saya sadar semua orang butuh sesuatu, semua ingin sesuatu. Semua orang sudah berusaha, semua merasakan lelahnya juga. Semua punya pendapat, semua punya kesempatan untuk didengar.

Dulu saya sering dengar, empati tuh kunci untuk berinteraksi dengan lebih dewasa. Lewat mengaplikasikan empati dalam setiap aktivitas, di tahun ini saya jadi merasa lega saat berinteraksi dengan banyak orang. Lega karena berhasil mendengar dan lega karena masih didengar.

Dengan kamu membaca tulisan ini sampai sini, artinya kamu masih mau mendengarkan saya berbagi, kan? Terima kasih banyak.

Tentang Resolusi Tahun Selanjutnya—2024

Ada satu hal yang saya rindukan di tahun 2023, yaitu rindu untuk berbagi apa yang saya pelajari.

Di tahun 2023, saya banyak menahan diri agar benar-benar bisa menyerap, memahami, dan kemudian menerapkan apa yang saya terima. Konten-konten tentang marketing saya batasi. Beberapa forum diskusi saya hindari.

Dulu, saya terlalu sombong untuk bilang “saya tidak tahu”. Rasanya setiap pertanyaan harus bisa saya jawab. Ternyata tidak memberikan celah membuat saya lelah.

Di tahun ini 2023 rasa lelahnya sudah terobati. Sekarang saya sedang bersiap-siap dengan resolusi saya yang baru. Resolusi saya di tahun 2024 adalah saya ingin berbagi dengan lebih jujur.

Jujur bukan hanya tentang apa yang saya ucapkan.

Saya ingin jujur tentang tujuan, proses, dan rasa yang saya dapatkan saat berbagi. Selama ini sepertinya saya lebih besar mengukur semuanya lewat angka. Di tahun ini, jujur saya ingin berbagi untuk benar-benar mendapatkan rasa.

Karena saya percaya, semua yang dari hati akan sampai ke hati.