Kelar baca buku ini di tanggal 21 Januari 2024, buku fiksi ke-2 yang saya selesaikan di tahun ini.
Nggak biasanya mau tahu tentang cerita cinta-cinta. Benar aja, ternyata cerita cintanya tragis.
"Love Kills", sebuah tema yang kuat dan provokatif. Tapi ini menurut saya tema yang sering muncul dalam banyak narasi klasik dan kontemporer, memperlihatkan sisi gelap dari sebuah gairah yang kuat dan obsesi. Tema ini sangat relevan dalam cerita The Great Gatsby, di mana potensi destruktif dari cinta terlihat jelas melalui kehidupan Jay Gatsby dan Daisy Buchanan.
Cinta Gatsby untuk Daisy super dalam, ini yang membuat Gatsby tergerak untuk mengumpulkan kekayaan dan kemewahan. Tujuannya? Demi memenangkan hati Daisy kembali.
Meski romantis, akhirnya semua hal yang penuh gairah justru membawa kehancuran. Gatsby yang terus mengejar masa lalunya membutakannya terhadap kenyataan masa kini, dan mimpinya hancur di bawah beban harapan yang tak tercapai. Cinta yang dulu jadi semangatnya sehari-hari, justru jadi sebuah kekuatan yang menghancurkannya.
Cinta Daisy, atau lebih tepatnya ketidakmampuannya untuk mencintai secara penuh dan tulus, juga berkontribusi pada akhir yang tragis. Terjebak antara Gatsby dan suaminya Tom, keragu-raguan dan kepalsuan Daisy mengungkapkan kehampaan dari perasaannya. Kegagalannya untuk berkomitmen pada Gatsby dan mundurnya ke dalam keamanan adalah bentuk nyata dari keragu-raguannya.
Pada akhirnya, cinta tidak hanya membunuh impian Gatsby tetapi juga merenggut nyawanya, menjadi pengingat yang tajam tentang jalan berbahaya yang bisa diakibatkan oleh gairah dan idealisme yang tak terkendali.
Lebih dari sekedar novel romantis, di sini saya belajar tentang impian yang terlalu besar dapat berakibat fatal ketika kita terlalu berharap di luar kewajaran. Nggak semua apa yang kita inginkan, bisa kita dapatkan, bahkan ketika kita punya harta dan kuasa. Pada akhirnya kita hanya akan bisa mengontrol apa yang ada di diri kita sendiri.
Do anything without expecting something in return.
Direkomendasikan oleh seseorang yang pernah mencoba bunuh diri, novel rilisan tahun 1993 ini jadi fiksi pertama yang saya baca setelah sekian lama. Menceritakan tentang 5 gadis cantik dari keluarga Lisbon, yang di akhir cerita semuanya bunuh diri!
“That girl didn’t want to die. She just wanted out of that house. She wanted out of that decorating scheme.”
Jeffrey Eugenides
Karena saya sudah lama tidak membaca buku fiksi, buku ini menguras banyak tenaga (mungkin karena topiknya juga). Saya harus bolak-balik di beberapa halaman untuk memahami keutuhan cerita. Belum lagi alur maju mundur—cenderung terasa acak—yang dinarasikan dari sudut pandang orang ketiga plural yang berganti-ganti sepanjang chapter, ini sukses bikin saya membaca setiap halaman dengan perlahan.
Ini kok mereka selalu pakai "we" sih, naratornya berapa orang dah?!
Itu yang ada di pikiran saya sejak di chapter satu. Ternyata narator dari cerita ini adalah sekelompok anak laki-laki yang terobsesi dengan 5 gadis keluarga Lisbon. Kelima anak gadis yang dimaksud adalah: Cecilia (13 tahun), Lux (14 tahun), Bonnie (15 tahun), Mary (16 tahun), dan Therese (17 tahun). Sepanjang cerita, para narator membagikan kisah masa lalu mereka saat remaja.
Setiap chapter akan membawa kita melengkapi kepingan puzzle, yang akan dibiarkan menjadi kesimpulan pribadi kita sebagai pembaca tentang kejadian yang ada.
Cerita dimulai dari gagalnya percobaan bunuh diri yang dilakukan Cecilia dengan mengiris pergelangan tangannya. Namun, selang beberapa waktu akhirnya ia berhasil menancapkan diri di pagar rumah setelah loncat dari lantai dua rumahnya.
Cerita berekskalasi menceritakan rasa penasaran setiap orang di latar lokasi area sub-urban, Michigan, circa 1970-an, atas motif dari bunuh diri yang terjadi. Diikuti dengan perubahan sikap dari Mr. Lisbon dan istrinya yang bukan semakin ingin memahami kondisi anak-anaknya, justru makin ketat dalam memenjarakan mereka.
Setiap chapter menggambarkan kondisi khas rumitnya masa adolesen (transisi dari remaja ke dewasa) dan bagaimana kejadian bunuh diri akan memengaruhi setiap orang dan lingkungan yang ditinggalkan. Meskipun saya kurang nyaman dengan alur ceritanya, tapi cara author menggambarkan kondisi psikologis si karakter terbilang kuat. Sukses membuat saya menahan nafas di banyak paragraf.
Menurut saya, bunuh diri bukan topik yang ringan. Penulis harus paham betul bagaimana rasa dan karsa yang dimiliki oleh si yang ingin mati. Ditambah lagi dalam novel ini ada 5 kejadian bunuh diri, yang artinya penulis harus berusaha meromantisasi kematian sebanyak jumlah karakter yang ada. Saya yakin, itu alasan kenapa hanya ada dua karakter yang mendapat porsi detail kematian lebih banyak dibanding tiga karakter lainnya.
Secara keseluruhan saya bisa menikmati novel ini, tapi sayang ini bukan bacaan yang akan saya rekomendasikan untuk dibaca minimal sekali seumur hidup. Tapi kalau kamu sangat menikmati novel dengan nuansa psikologis yang dibalut dengan romansa khas anak remaja, kamu pasti suka.
Novel ini berhasil menggambarkan sulitnya masa transisi dari remaja menuju dewasa, terlebih jika tidak didukung oleh orang-orang di sekitarnya. Orang dewasa (seringnya) sungguh menyebalkan. Mereka lupa, bahwa ada masa transisi yang mungkin juga sama sulitnya dengan yang mereka alami, atau bahkan lebih sulit.
Setiap zaman akan ada tekanan yang berbeda-beda. Seperti di zaman sekarang, tuntutan dari media sosial dan lingkungan jelas-jelas memainkan peran penting dalam membentuk kondisi mental generasi saat ini.
Penting untuk diingat bahwa tidak setiap remaja mengalami tingkat kesulitan yang sama. Beberapa orang mampu mengatasi tantangan ini dengan lebih baik dibandingkan yang lain, dan kepribadian serta keadaan individu berperan dalam hal ini.
Meskipun demikian, mengakui tantangan-tantangan yang melekat pada masa remaja dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi remaja untuk melewati periode yang kompleks dan transformatif ini.
Be gentle with those who entering adolescence; it's a damn tough phase.