
Kalau ada budget lebih, mending pilih grinder yang serius dulu daripada mesin espressonya. Setidaknya itu yang saya sering dengar dari orang-orang yang saya tanya tentang rekomendasi perintilan bar kopi untuk pemula. Kebetulan budget lebih saya saat ini baru cukup untuk beli grinder dari brand Fellow, seri Opus.
Buat kamu yang ingin membeli Fellow Opus sebagai grinder elektrik untuk penggunaan harian di rumah, mungkin tulisan ini bisa membantu kamu untuk mengambil keputusan.
Menurut saya Fellow Opus ini terbilang grinder serbaguna. Sebab, dia bisa memenuhi kebutuhan kita untuk menggiling biji kopi dengan berbagai cara penyeduhan kopi yang sangat luas—dari espresso hingga cold brew.

Belum lagi desain yang ramping dan modern, grinder ini bakal cocok untuk melengkapi meja bar dengan setup minimalis. Selain itu, dari sisi cara pengoperasiannya Fellow Opus sangat sederhana dan intuitif, menjadikannya pilihan yang tepat bagi pemula seperti saya.
Fellow Opus adalah satu-satunya grinder elektrik yang masuk ke dalam list pertimbangan saya. Sempat ada yang menyarankan untuk membeli grinder Latina 600N. Tapi sayang, meskipun lebih terjangkau, grinder tersebut belum dapat menyaingi bentuk minimalis dari Opus Fellow.
Oh ya, karena sehari-hari saya bekerja di industri marketing, di luar sisi fungsional ada hal menarik lain yang dapat ditemui dari brand Fellow. Hal menarik ini adalah uniknya mereka dalam membawakan verbal expression. Contohnya adalah mereka melakukan kejahilan dengan menaruh easter egg bertuliskan "What are you searching for?" di area yang susah dilihat. Ini adalah bukti bahwa mereka ingin terhubung dengan audience melalui cara yang spesial.

Fungsional OK, desain dan detail OK, komunikasi brand OK, jelas ini tipikal produk yang menyenangkan dan dapat memenuhi kebutuhan saya.
Saat saya membuat tulisan ini adalah bulan ke-8 saya menggunakan Fellow Opus. Saat menggunakan pertama kali saya merasa cukup puas. Tapi setelah frekuensi brewing kopi harian saya meningkat, sepertinya saya butuh grinder yang lebih tangguh. Salah satu yang membuat saya merasakan kebutuhan ini karena tingkat retensi yang terbilang besar—bisa sampai 1 gram.

Retensi adalah sisa hasil giling yang tertinggal di dalam mesin saat proses penggilingan berlangsung. Menurut saya ini hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Terlebih kalau kita sudah mulai sering menggunakan specialty beans dalam menyeduh kopi harian. Jelas sangat mengecewakan kalau beans yang kita giling tersisa di dalam.
Masalah utama sebagai penikmat kopi mula-mula adalah rasa ingin eksplorasi yang tinggi. Setiap hari icip-icip beans ini, brewing method itu, semua pengin dijajal. Tapi apa daya karena hanya punya Fellow Opus sebagai grinder utama, dengan retensinya yang lumayan tinggi saya jadi kudu perlu jaga kebersihan secara ekstra.
Kita semua tahu, hasil gilingan yang tertinggal di dalam grinder jika dibiarkan menumpuk maka akan mengganggu cita rasa kopi yang kita buat. Hasil giling dari berbagai beans tercampur. Belum lagi kalau tingkat kehalusan gilingan berbeda-beda. Ini juga jelas akan memengaruhi hasil brewing kita nanti. Jadi solusinya bagaimana?
Jadwal Bersih-bersih Berkala!

Dari info teman-teman kopi yang menggunakan Opus, saya jadi tahu kalau ada baiknya grinder yang satu ini dibersihkan setiap 60 kali grinding.
"Lah, ribet ngitungnya", mungkin kamu akan berpikir seperti itu. Sama kok, saya juga. Jadi saya sendiri memutuskan untuk memberishkan Opus sebulan sekali. Asumsinya saya sehari grinding 2 kali. Coba deh, pasti saat membersihkan Opus pertama kali kamu akan kaget ternyata banyak tumpukan sisa gilingan yang tidak keluar di dalam sana.
Mungkin ini bisa jadi konklusi untuk kamu memutuskan beli Opus atau enggak.
Kalau kamu cari grinder entry level yang terjangkau, pengin setup bar kamu terlihat lebih simpel dan modern, pengin eksplorasi banyak metode brewing, yes kamu akan happy pakai Opus.
Pengin lebih happy? Simple!
Beli grinder lain untuk pairing sama Opus. Bisa grinder manual seperti Timemore C3 misalnya. Jadi kamu akan sedikit sekali mengubah-ubah setingan Opus yang kamu punya.
Oke deh, sekian dulu tulisan Set–duh kali ini, sampai ketemu di tulisan selanjutnya!